Translate


widgeo.net

Rabu, 18 Desember 2013

Alam Semesta kita mungkin hanya sebuah Hologram

IBA — Peneliti asal Jepang menyuguhkan sebuah bukti bahwa alam semesta tempat kita hidup mungkin hanya sebuah hologram.

Diberitakan Nature, Selasa (10/12/2013), bukti yang disuguhkan oleh Yoshifumi Hyakutake dari Ibaraki Uniersity, si peneliti yang dimaksud, sangat menarik.

Gagasan bahwa semesta hanya sebuah hologram pertama kali diungkapkan pada tahun 1997 oleh Juan Maldacena.

Dalam gagasan Maldacena, semesta terdiri atas senar yang sangat tipis dan bergetar, yang kemudian memunculkan gravitasi.

Dunia "senar" yang rumit itu eksis dalam 9 dimensi, ditambah dimensi waktu. Namun, dunia itu cuma proyeksi dari semesta dengan dimensi rendah. Semesta "nyatanya" lebih sederhana dan datar.

Mencoba menjelaskan secara lebih sederhana, Kostas Skenderis dari University of Southampton mengatakan bahwa semesta mirip hologram di kartu kredit.

"Ide ini sama dengan hologram biasa di mana citra 3 dimensi disandi pada permukaan dua dimensi, seperti hologram di kartu kredit," katanya seperti dikutip Telegraph, Kamis.

Hyakutake melakukan perhitungan komponen-komponen lubang hitam, seperti energi internal lubang hitam, horison peristiwa (batas antara lubang hitam dan bagian semesta lainnya), dan lainnya.

Sementara itu, Hyakutake juga melakukan perhitungan energi internal kosmos tanpa gravitasi. Hasil perhitungan cocok, mendukung gagasan Maldacena.

Menanggapi riset Hyakutake, Leonard Susskind, fisikawan teoretik di Stanford University di California mengatakan bahwa perhitungan Hyakutake benar.

Susskind mengatakan, memang kebenaran di sini baru kebenaran dalam perhitungan. Namun, hasil riset ini semakin mendekatkan manusia pada gagasan Maldacena.

source: sains kompas

Selasa, 10 Desember 2013

Inilah Gugus Galaksi Raksasa di Alam Semesta

Inilah Gugus Galaksi Raksasa di Alam Semesta
Klik untuk memperbesar
Info Astronomy - Citra terbaru dari teleskop luar angkaas Hubble milik NASA menunjukan gugus galaksi dan gugus bintang raksasa secara detail.

Hubble menemukan lebih dari 160.000 kelompok gugus bola di 'samping' gugus galaksi raksasa Abell 1689, yang berjarak sekitar 2,25 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Data observasi baru teleskop Hubble -- yang difokuskan ke pusat gugus galaksi Abell 1689 -- dapat membantu menemukan materi gelap di sekitar gugus galaksi tersebut.

Dengan data dari teleskop yang ditempatkan di orbit Bumi, teleskop Hubble, para astronom memperkirakan luas dari gugus galaksi Abell 1689 adalah 2,4 juta tahun cahaya. 1 tahun cahaya adalah 9,4 triliun kilometer.

Para astronom berharap, teleskop luar angkasa baru milik NASA bernama James Webb Space Telescope (JWST) dapat mengambil foto dari Abell 1689 yang lebih baik dari Hubble.

JWST akan diluncurkan pada tahun 2018 mendatang.http://www.infoastronomy.co.vu/2013/12/inilah-gugus-galaksi-raksasa-di-alam-semesta.html

Komet Ini Akan Picu Hujan Meteor Paling Spektakuler

Suatu komet akan mencapai jarak terdekat dengan Mars, pada Oktober 2014. Sementara ada ancaman, ada juga pertunjukan hujan meteor langka di Mars.

meteor,mars,komet,siding springIlustrasi. (Thinkstock)
Sebuah komet akan mendekati Planet Mars. Komet itu punya dua dampak, bisa mengancam misi manusia di Mars, tetapi juga sekaligus menjanjikan fenomena hujan meteor langka yang berpotensi disaksikan manusia secara online.
Komet yang dimaksud itu bernama C/2013 A1 atau disebut juga komet Siding Spring. Komet ditemukan pada 3 Januari 2013 oleh pemburu komet Robert McNaught di Siding Spring Observatory, New South Wales, Australia. Komet akan mencapai jarak terdekat dengan Mars pada 19 Oktober 2014.
Awalnya, ilmuwan memperkirakan bahwa komet itu akan menghantam planet merah. Namun studi selanjutnya mengonfirmasi bahwa tumbukan mungkin takkan terjadi, tetapi mampu mengancam apa pun yang ada di orbit planet Mars.
Diberitakan www.newscientist.com, Jumat (06/12), saat mencapai titik terdekat, komet itu bakal berjarak 173.000 km atau bahkan bisa 89.000 km. Sebagai perbandingan, komet terdekat yang pernah mencapai Bumi berjarak 3,5 juta km pada tahun 1770. Dengan jarak itu, halo gas dan batu penyusun komet yang bisa merentang hingga ribuan kali diameter kometnya bisa mengancam apa pun yang ada, termasuk satelit buatan manusia yang berada di orbit Mars.
Bill Cooke dari Marshall Space Flight Center di Alabama mengungkapkan bahwa pada 2 jam sebelum komet mencapai jarak terdekat, atmosfer Mars akan terdiri dari material setara 1.000 hingga 10.000 kali massa jenis batuan yang terdapat di orbit Bumi.
Dengan fakta itu, maka misi Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) di Mars, MAVEN, bakal terancam. Demikian juga dengan misi India yang baru saja diluncurkan minggu lalu. Kini, ilmuwan tengah merencanakan mitigasi.
Sementara ada ancaman, ada juga pertunjukan spektakuler hujan meteor langka di Mars. Mark Lemmon dari Texas A7M University mengatakan, wahana Curiosity dan Opportunity di Mars bisa merekam kejadian itu.
"Ini mungkin akan menjadi hujan meteor paling intens yang pernah ada," kata Cooke. Dengan teknologi komunikasi saat ini, sangat mungkin hujan meteor itu bisa disaksikan secara online di internet.http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/12/komet-ini-akan-picu-hujan-meteor-paling-spektakuler

Kamis, 05 Desember 2013

Terungkap Kondisi Bumi 550 juta tahun

CALIFORNIA - Kondisi Bumi 550 juta tahun lalu memiliki lebih sedikit keragaman mineral ketimbang Bumi saat ini. Tim ilmuwan Carnegie Institution for Science mengungkap studi baru mereka tentang awal Bumi.

Dilansir Softpedia, Jumat (29/11/2013), catatan penelitian mengungkap kurang dari 8 persen mineral saat ini telah ada sejak 550 juta tahun lalu setelah Bumi terbentuk. Temuan ini penting karena para ahli mengatakan bahwa mineral memiliki peran utama dalam mempromosikan perkembangan kehidupan di Bumi.

Bahan-bahan mineral yang ada di Bumi diyakini menyediakan tempat penampungan untuk blok bangunan awal kehidupan. Mineral juga membantu menjaga dari kondisi Bumi yang ekstrem setelah waktu terbentuknya.

Penelitian yang dilaporkan di American Journal of Science menjelaskan bahwa mineral kemungkinan memfasilitasi perkembangan molekul pertama yang penting untuk kehidupan. Selain itu, mineral juga penting untuk menyediakan energi metabolik untuk struktur awal yang berkembang di Bumi.

Peneliti mengungkapkan, terdapat sekira 420 mineral yang ada di Bumi pada 550 juta tahun lalu. Sementara yang diketahui saat ini bumi memiliki jumlah sekira 5.000 mineral.

Ilmuwan menciptakan daftar semua spesies mineralyang mungkin muncul di era Hadean Eon (ratusan juta tahun lalu). Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan Robert Hazen dari CIT Geophysical Laboratory.

"Sebagian besar dari 420 mineral dari Hadean Eon terbentuk dari magma, batuan cair yang perlahan mengkristal di permukaan bumi, serta perubahan mineral tersebut bila terkena air panas," kata Hazen. Sebagian besar mineral diyakini memainkan peran penting dalam pengembangan kehidupan selama Hadean Eon.

Mineral yang terbentuk dengan lambat ini antara lain mengandung lithium, beryllium atau molybdenum. Mineral-mineral ini membutuhkan waktu satu miliar tahun untuk berkembang. (ahl)

source : okezone

Minggu, 01 Desember 2013

Bima Sakti Dulu Samar dan Kebiruan

Satu yang menarik juga adalah, saat semesta berusia empat miliar tahun, Bima Sakti telah menghasilkan sekitar 15 bintang tiap tahunnya.
tata surya,bima sakti,bintangBima Sakti di langit malam hari. (Thinkstockphotos)

Upaya pencarian asal-usul galaksi kita semakin menemui titik terang. Sekelompok astronom dari Yale University mengklaim telah menemukan jawaban atas rahasia besar sistem galaksi, Bima Sakti.

Penelitian itu memang tidak langsung menggunakan Bima Sakti sebagai objek utama, melainkan galaksi yang menyerupai Bima Sakti. Para astronom tersebut melakukan teknologi Hubble’s deep-sky survey untuk mempelajari evolusi yang terjadi di 400 galaksi mirip Bima Sakti.

Pieter G. van Dokkum, co-leader penelitian tersebut, mengungkap, “Tentu saja kami tidak bisa melihat Bima Sakti di masa lalu. Kami memilih galaksi-galaksi yang berpotensi seperti Bima Sakti dalam beberapa tahun cahaya ke depan.”

Dari pengamatan sementara disimpulkan, bahwa Bima Sakti dahulu berbentuk samar, berwarna kebiruan, dan bermassa rendah dengan banyak kandungan gas. Gas adalah bahan bakar pembentukan bintang, sedangkan warna biru adalah indikator pembentukan bintang yang berlangsung cepat.

Kemampuan tangkap teleskop Hubble yang sangat bagus juga memudahkan sistem kerja tersebut. Salah satu yang menarik adalah, pada puncak pembentukan bintang, ketika alam semesta berusia empat miliar tahun, Bima Sakti telah menghasilkan sekitar 15 bintang tiap tahunnya.

Dari pengamatan itu pula ditemukan, Galaksi Bima Sakti membangun 90 persen bintangnya antara 11 miliar sampai 7 miliar tahun yang lalu. Cukup jauh berbeda dengan apa yang terjadi sekarang. Sebagai perbandingan, saat ini Bima Sakti hanya menciptakan satu bintang per tahun.

Untuk mendapatkan hasil yang begitu detil, para peneliti menggunakan tiga program terbesar Hubble: The 3D-HST Survey, The Cosmic Assembly Near-infrared Deep Extragalactic Legacy Survey, dan The Great Observatories Origins Deep Survey. Ketiga program survei itu lantas digabungkan dengan sistem kamera jarah dekat yang dimiliki oleh Hubble.

Para astronom tersebut menghitung massa setiap galaksi dari kecerahan dan warna. Galaksi-galaksi yang dipilih juga bukan sembarangan, melainkan adalah hasil penyaringan 100 ribu galaksi yang dianggap paling mirip dengan Bima Sakti. Dan dari galaksi-galaksi tersebut, akhirnya ditemukan sistem evolusi Galaksi Bima Sakti hingga sekarang.

source; national geographic indonesia

Jumat, 29 November 2013

Gunung Everest dan Olympus Mons

VIVAnews - Puncak gunung Everest tingginya mencapai 8.848 meter dan disepakati sebagai gunung tertinggi di planet Bumi. Akan tetapi, Everst tidak ada apa-apanya dibanding Olympus Mons, gunung yang ada di planet Mars.

Dengan tinggi hingga mencapai 14 mil, atau sekitar 22.530 meter, Olympus Mons yang merupakan gunung berapi di planet Mars saat ini juga menjadi gunung tertinggi yang pernah terdeteksi di seluruh tata surya hingga saat ini. Saking tingginya, jika seorang pendaki gunung berdiri di kaki Olympus Mons, ia tidak akan mampu melihat puncak gunung itu.

“Gunung raksasa ini diperkirakan terbentuk dengan cara yang sama dengan terbentuknya gunung-gunung di planet Bumi, yakni berdiri di titik di mana batu-batuan panas dari bagian dalam planet terlontar ke atas,” kata David Baker dan Todd Ratcliff, peneliti dari Goddard Space Flight Center dan Kennedy Space Center NASA pada laporannya, seperti dikutip dari Extremesolarsystem, 31 Desember 2010.

Meski demikian, gunung Olympus Mons masih bisa tumbuh lebih tinggi lagi dengan cara yang berbeda dengan gunung berapi di planet Bumi karena planet Mars tidak memiliki lempeng tektonik.

Di Bumi, sebut kedua peneliti itu, lempeng tektonik berfungsi seperti ban berjalan di atas bara yang panas. “Gunung-gunung terbentuk, mati, dan kemudian membentuk gunung baru karena lempeng bergerak di atas titik panas yang menghasilkan rangkaian gunung berapi,” sebutnya.

Dengan tidak adanya lempeng yang bergerak di planet Mars, Olympus Mons kemungkinan berada di sebuah saluran pembentuk gunung berapi untuk jangka yang sangat panjang.

Sebagai gambaran, Mars merupakan planet kecil yang berukuran hanya sekitar separuh planet Bumi. Bayangkan betapa signifikannya gunung Olympus Mons terhadap planet itu.